Sekali lagi, rindu. Padahal tak mengundangnya. Kenapa datang secara terus menerus? Bisakah tak hadir? Bisakah?
Kali ini, harus ada ketegasan untuk menolaknya. Sungguh ini tak baik. Bukankah begitu?
Pesan dan chat, awal rindu ada. Berusaha menolaknya. Tegas monolak. Tapi, menolak rindu itu rumit, sangat rumit. Seperti benang yang terikat 1000x simpul mati, tak mungkin membuatnya kembali, sprti itulah kerumitannya.
Kerumitan selalu ada, entahlah. Kita tak boleh dekat. Semuanya akan terasa rumit bagi kita, maupun lingkungan yang terus menerus mengharuskan kita maju. Kita hanya boleh sedekat isya dan subuh, bukan sedekat maghrib dan isya. Saya tau, kita sama-sama tau itu. Belum ada ikatan yang sama² diinginkan. Tapi kita terus berusaha, entah dalam keyakinan, keseriusan, dan hal lainnya untuk menuju kesana. Meski tak dikatakan, sya tahu itu. Bukankah begitu?
Kalau dipikir-pikir kita harus meneladani matahari. Matahari mencintai bumi, tapi matahari tahu, jika ia mendekat justru akan membinasakan. Alhamdulillah, saya cukup paham akan hal itu.
Terimakasih untukmu, wiseman...😊 saya cukup paham. Semoga kita dimudahkan mewujudkan keinginan baik kita.